KIRATA (Kisah Rama dan Shinta)

Kirata ,, dikira- kira namun nyata, kali ini kita akan berbicara tentang kirata dilihat dari sisi yang lain, kirata (kisah rama dan shinta) berbicara rama dan shinta,, mungkin bagi kita sudah tidak asing lagi kita langsung terbayang sosok srirama yang menjadi suami dewi sinta, dan begitupula sang dewi adalah sosok wanita cantik yang menjadi pendamping hidup rama, sehingga dalam sebuah lagu dangdut digambarkan pasangan yang saling setia dan saling menjaga,, bagai rama dan shinta. Namun disini kita tidak akan berbicara lebih jauh tentang rama dan shinta,, hanya sedikit kita maknai bahwasanya rama diambil dari kata “ROMAYA” itu merupakan bahasa arab yang artinya melempar,, pantaslah jika sosok rama pandai memanah dan selalu tepat sasaran.

Sedangkan shinta adalah diambil dari fiil madhi “Showana/ Shoona” yang shona sendiri artinya benteng, membentengi, maka yang dimaksudkan disini shinta adalah sosok pendamping hidup yang sekaligus membentengi/ melindungi srirama dengan kelembutan cinta dan kasih sayang yang tulus, serta sikap dan budi bahasa yang mencerminkan sosok putri, ataupun permaisuri yang bijaksana dan selalu menghormati dan menjaga kehormatan suaminya.

Baiklah kali ini kita akan mendongeng, atau bercerita yang merupakan sebuah konon, ini adalah kirata dikira-kira tapi nyata,, cerita ini sebuah fiktif yang mudah-mudahan dapat menginspirasi dan menjadi bahan renungan serta harapan saya mudah-mudahan mengandung nilai-nilai pendidikan aminn... kenapa saya katakan dikira-kira tapi nyata?

Mari kita ikuti kisahnya....!!!
Mengapa kerbau selalu terlihat murung dan termenung,,, pandanganya selalu kosong?
Mengapa Anjing selalu memusuhi kucing?
Mengapa kucing tak henti- hentinya mengejar tikus,, dan memangsanya saat tertangkap?

Alkisah................

KIRATA (Kisah Rama dan Shinta)Terdapatlah sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera, serta rakyatnya hidup bersahaja,,, kerajaan tersebut dipimpin oleh sang rama dan permaisurinya dewi shinta, pada zaman tersebut dimana sang raja sakti mandraguna bisa berbicara dengan binatang lainya, selain dari sesama manusia.
Diceritakan sang raja membuat kesepakatan dengan raja binatang yang disaksikan para menteri dari kedua belah pihak,, dan kesepakatan tersebut merupakan surat yang berisi tentang kemerdekaan para binatang,, agar tidak boleh dipekerjakan oleh manusia,, untuk menggarap ladangnya ataupun yang lainya dan bahwa dalam surat tersebut dinyatakan agar manusia dan hewan lainya harus selalu hidup bersama, berdampingan dan saling melindungi, surat tersebut sudah ditandatangani oleh sang rama dan diserahkan kepada raja binatang kemudian diserahkan kepada si kerbau sebagai sekertarisnya, kerbau selalu ceria,, sehingga mudah untuk diajak musyawaroh oleh rajanya,, sang ramapun mewanti-wantikanya kepada sikerbau agar menjaganya karena nantinya akan dibacakan dihadapan rakyatnya, agar supaya semuanya tau tentang undang- undang tersebut.

Dimulailah keceriaan si kerbau berganti lamunan,,, renungan, serta pandangan kosong yang menyelimuti hari-harinya hal itu terus berkelanjutan dan sampai saat inipun keadaan belum bisa mengembalikan keceriaan si kerbau,,, suatu hari si kerbau menitipkan surat itu kepada si saudaranya yaitu si Anjing... anjing yang sopan terhadap saudaranya yang lebih besar diapun mau diamanati sebagai rasa hormatnya,, hingga akhirnya si anjing memegang surat tersebut,, si kerbaupun mandi di air yang penuh dengan lumpur, karena alasan itu pula awalnya si kerbau menitipkan surat tersebut,, namun seusainya mandi dia tidak langsung meminta kembali suratnya,, suratpun berhari- dipegang si anjing,, anjingpun hendak berjalan-jalan ke hutan,, dia mencari kerbau dengan maksud untuk mengembalikan suratnya,, namun dia tidak mendapatinya,, justru yang dia dapati saudaranya yang imut, yaitu si kucing karena dia takut jatuh di hutan maka si anjing kembali menitipkan suratnya kepada sang kucing... kucing memegangnya,, namun anjing tak kunjung datang,,, dia merasa khawatir tak bisa menjaganya,, akhirnya kucingpun menitipkan surat tersebut kepada si kecil yang menggemaskan yakni tikus yang sangat dia sayangi,,, disamping khawatir kucingpun bukan tanpa alasan menitipkan kepada si tikus,, namun dengan beberapa alasan yang dia tidak jelaskan kepada sang tikus... tikus mungilpun memeganya.

Saat sitikus menjaga surat tersebut,,,, dia mulai kebingungan,,, dia hendak mengembalikan surat tersebut.. namun ternyata sitikuspun dilanda kelaparan yang sangat,, karena jatah makananya dikasihkan kepada anak-anaknya,,, saking laparnya,, kunang-kunang terlihat di pelupuk matanya,,, sampai sang tikus tidak sadar dengan apa yang dipegangya... demi mengobati rasa laparnya tanpa sadar, sedikit-demi sedikit digerogotilah surat undang-undang tersebut, sampai tinggal seperempatnya,, barulah sitikus sadar kalau yang digerogotinya adalah surat undang-undang yang tiada lain untuk kemerdekaan dirinya dan teman-temanya, dia mulai takut kalau- kalau saudaranya marah, karena kelalaianya dalam menjaga amanatnya,, saat sitikus melamun,, ditempat lain,, sang raja kembali meminta surat undang-undang tersebut,, guna untuk diumumkan keesokan harinya..:- (

Si kerbau...........

Si kerbau menemui Anjing untuk meminta kembali surat yang tempo hari di titipkanya terjadilah diskusi diantara dua bersaudara ini
“Saudaraku,,, mana surat yang dulu aku titipkan?” kata si kerbau.
“ suratnya aku titipkan sama kucing karena waktu itu aku hendak jalan-jalan”
“ya.. tolonglah ambil kembali surat itu” “baiklah saudaraku” kata si anjing sambil berlalu.

Anjingpun menemui kucing,, terjadilah obrolan yang sama,, hingga kucingpun berlalu dengan maksud menemui si tikus... dimulailah perburuan kucing terhadap tikus,,, saat tikus mengatakan,, “maaf saudaraku, ini suratnya” kata si tikus sambil menunjukan sobekan surat yang tinggal seperempat,,, dan kucingpun langsung faham dengan maksudnya... dengan geram si kucing langsung meremas tikus tersebut,,, saat itu sitikus masih bisa berontak,,, namun sang kucing tak mau berhenti,,, dia terus mengejar dan bersumpah akan terus mengejar dan memangsanya.

Disela-sela perburuanya kucingpun ingat kepada anjing... “biar bagaimanapun aku haus melapor kepada saudaraku” dalam hatinya dia bergumam, dan langsung menemui anjing anjingpun langsung menanyakan suratnya,,, si kucing menjelaskannya dan menunjukan sobekan surat yang sempat dibawanya,,, namun kucing sudah menduga apa yang bakal terjadi,, higga saat anjing mulai geram dan hendak memangsanya sang kucing tak sempat tertangkap karena dia langsung berlari... anjingpun melalkukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan kucing terhadap tikus... setelah merasa kecapean dan kucing terus berlari kencang... diapun teringat kepada si kerbau,, saudaranya yang sangat dia hormati,,,

Dengan rasa gundah dan yakin kalau kerbau bakal merasa kecewa kepada dirinya,,, anjing melangkah gontai dengan sisa-sisa tenaga yang sudah dipakai untuk mengejar kucing,, diapun menemui sang kerbau sambil menunjukan sisa makanan si tikus (sobekan surat yang tinggal seperempat akibat dimakan tikus) kerbaupun marah dan kecewa,,, tapi dia sadar kalau dia adalah yang terbesar,, dan tak bisa lari cepat,, kalaupun dia mencoba mengejar anjing,, pastilah dia akan ketinggalan jauh.... dan apakah yang terjadi??? Si kerbau merenung,, melamun,, pandanganya selalu kosong,, karena dia menanggung, rasa malu kepada sang raja, sedih karena akhirnya kemerdekaan yang selama ini menjadi harapanya tidak menjadi kenyataan,,, serta marah dan kekecewaan yang mendalam terhadap saudara-saudaranya.

Hayu kasadayana... urang mulai mikirken naon hikmah anu aya dina dongeng anu parantos disimak kuurang di luhur...

Jadi begini lho... pertama kita membahas tentang arti srirama yang pandai memanah sesuai arti kata dari namanya,,, maka filoshofinya,, kita harus selalu mengena dalam setiap hal, kata-kata dan bahasa yang kita sampaikan,, tanpa harus dibatasi mau menggunakan bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal,, komunikasi interpersonal, massa maupun yang lainya.. sama halnya dengan sang rama dalam posisi bagaimanapun selalu tepat sasaran ketika memanah,, hal itu bukan karena bagaimana posisi dia memanah,, tapi bagaiman konsentarasi hati dan pikiranya, sehingga mewujudkan keindahan yang menumbuhkan kekaguman dan menyilaukan mata.

Kedua shinta, yang kita maknai sesuai arti katany,, yakni jagalah,, ya tentunya kita harus menjadi benteng, atau membentengi diri dengan akidah yang kuat.

Ketiga dari cerita si kerbau,, kita bisa menyimpulkan.. bahwasanya saat dikasih amanah atau kepercayaan jangan sampai kita lempar dan jangan sampai kita kecewakan orang yang sudah mempercayai kita,, karena hal itu akan berujung sebuah lamunan layaknya si kerbau,, jagalah dan jalankan sekuasa kita mengembanya,,, tanpa harus memaksakan diri melakukan hal yang memang belum mampu kita lakukan.

(IBNU AN-NAZM EL- BANTARKAWUNGI)

Ziaroh Tahun 2016 Pondok Pesantren Al-hadi Min Aswaja

Program tahunan pondok pesantren Al-hadi Min Aswaja yaitu Ziaroh, atau bahasa santri zaman sekarang yang tak kalah kerenya disebut dengan wisata religi dan kali ini ziaroh pada tahun 2016 yang sudah dirapatkan berkali-kali oleh panitia, yang ketuanya adalah Abdul Kholik santri asal Pemalang, menghasilkan hasil yang maksimal, yakni ziaroh yang cukup memuaskan bagi pesertanya hal itu bisa dilihat,, dari keceriaan dan dari komentar beberapa santri yang mengatakan bahwa ziaroh kali ini jauh lebih asyik dari sebelum-sebelumnya,, walau ada juga salahsatu santri putri yang jatuh sakit karena mabok kendaraan / bis dan hal itu menyebakan santri putri tersebut dan salahsatu temanya, ketua panitia serta salahsatu dewan asatidz terpaksa berhenti di Tuban, tidak mengikuti ziaroh ke Bangkalan Madura. Dan satu,dua hari sebelum keberangkatan,, ada pula sebagian santri yang pulang guna mengambil, perbekalan misalnya lontong,, bahkan malam sebelum besoknya berangkat ada salahsatu sanrti (Atif Khaolaridho) keliling-keliling mencari sendal, dia memaparkan “sendal ini membutuhkan perjuangan” malam harinya jam 11: lewat, keliling mencari toko yang masih buka dan akhirnya dapat pula sandal warna hijau untuk dipake ziaroh, dan masih banyak lagi hal-hal unik sebelum keberangkatan.

Ziaroh Tahun 2016 Pondok Pesantren Al-hadi Min AswajaKira-kira jam 07:00 santri Al-hadi berduyun-duyun menuju Gg 1 tepatnya di Gg satu Panjang Wetan, dengan memakai seragam putih-putih, sambil menunggu bis datang, para santri bercanda ria, tertawa-tertawa kecil ada yang sarapan bubur ada pula yang minum susu dan banyak yang asyik santai dengan ngobrol-ngobrol, tak lama kemudian dua bis yang ditunggupun datang,, langsung parkir,, para santripun naik setelah kedua bis itu menghadap ke selatan, kedua bispun langsung dikasih tanda pengenal yang sudah dibikin oleh panitia, pengenalnya “ROMBONGAN ZIARAH WALI SONGO PONDOK PESANTREN AL-HADI MIN ASWAJA PEKALONGAN” BIS 1 dinaiki santri putra,dan BIS 2 santri putri, setelah peserta ziaroh yakni para santri, dewan Asatidz, dan ada beberapa peserta dari luar naik bis,, bispun mulai berjalan dengan diawali do’a naik kendaraan yang di baca oleh peserta ziaroh yang terlebih dahulu ditintun oleh kiai Abdul Hadi, saat bis melaju kira-kira 15 menit salahsatu dewan Asatidz mengumumkan bahwa, “kali ini kita langsung menuju arah Demak, tidak mampir ke Sapuro dulu” katanya sambil mempersilahkan untuk menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh panitia, yang berupa bungkusan yang biasa disebut besek berisikan nasi ayam, sebagian besar pesertapun langsung menyantap sarapanya.

Para santripun terlihat sangat ceria dan bahagia, bahkan ada yang sangat girang Nasrul Kamal (Gus Kamal) santri asal Limpung, Batang,,, terlihat girang sekali,, sambil terus menengok kebelakang melempar senyumnya dan tawanya yang meringis tapi manis.. walau mereka peserta ziaroh seragam dalam pakaianya,, yaitu warna putih, napi apa yang menjadi aktifitas mereka sangat beragam,, selang beberapa menit,,, sudah mulai terlihat banyak yang mengantuk,, ada yang masih asyik santai ngobrol,,bahkan ada yang sudah tertidur,, ada pula yang masih nyemil kokosan,,, yang mereka jadikan pelesetan sebagai salahsatu candaan “koskosan” bahkan gus kamal yang tadi girang sudah terlihat melemas,, apalagi sudah diiringi lagu-lagu syahdu New Palapa.

Di Banyuputih Batang bis berhenti, karena ada sebagian peserta yang hendak buang air, namun hanya sebagian kecil saja lebih banyak yang memilih tetap di bis sambil menikmati kantuknya, dan juga ngobrol kecilnya, tak lama setelah semua naik bispun kembali melanjutkan perjalanan di Kaliwungu Kendal tepatnya di RM Kurnia Jawa Timur jam 09:19 bispun berhenti lagi kamipun turun bahkan kali ini banyak yang turun, mampir ke WC, setelah selesai kamipun melanjutkan perjalanan dan sampai di Demak tepatnya di Kadilangu makom sunan Kalijogo sang Wali yang sempat mempunyai julukan perampok lokajaya di waktu mudanya,, dan berhasil mengislamkan jawa melalui dakwahnya dengan melalui seni wayang diantaranya jam 11:10, dikadilangu kamipun melaksanakan sholat jum’at, yang putri sholat dzuhur, setelah selesai sholat,, kami (peserta ziarohpun ada yang makan siang jajan, istirahat sejenak di Masjid,, dan kemudian dilanjutkan ziarah ke makom kanjeng sunan kalijogo,, hadiah tawashul, tahlil dan diakhiri do’a yang dipimpin oleh Abah yai, begitu kami memamnggilnya (Kiai Abdul Hadi).

Jum’at masih 06/05/2016 pukul 14:27, setelah selesai di makom sunan kali jogo,, kamimpun menuju bis,, tak lama gerrrrr gerrrr grrrr setir menyala

Bersambung..................

Ingin Kaya Nikahi Janda Tua

Diceritakan, seorang pemuda malas ingin   kaya raya, tanpa harus berupaya dan tak mengeluarkan tenaga, dia melamun, melamun dan terus melamun, pemuda itu merenung,,, tiba-tiba.. dia sepeti mendapat ilham “Ah... aku pasti bisa kaya”.... dia terus senyum-senyum sendiri.

Dia teringat Mak Saroh tetangga yang rumahnya agak jauh dari rumahnya... mak Saroh adalah janda tua yang kaya raya besar rumahnya, banyak dan luas tanahnya, anaknya sudah jauh semua,, tak ada yang menemaninya, semuanya diluar kota.

Akhirnya pemuda malas itu bergumam “secepatnya aku akan melamar mak Saroh,, aku akan menikahinya,, dan si tua renta itu pasti umurnya tidak lama lagi, maka setelah kematianya,, semua kekayaanya jadi milik gua, hahaha”... dia tertawa dalam hatinya.


Setelah mendapat ilham, malam harinya pemuda itu mendatangi mak Saroh di rumahnya, tanpa basa-basi dia langsung menyampaikan maksud dan tujuanya, mak Sarohpun langsung menyetujuinya, bahwa dia menerima lamaran pemuda itu, dengan pertimbangan supaya ada yang menemani juga membantu mengurusi ladang-ladangnya.

Ingin Kaya Nikahi Janda TuaSelang beberapa hari merekapun melangsungkan pernikahan, pemuda itupun sangat tekun dan ulet dalam sandiwaranya, dia terus berakting rajin mengurusi ladang milik mak Saroh, demi menutupi niatnya yang busuk, disela-sela keuletanya dia selalu berkata-kata dan berdo’a dalam hati  “kenapa tua bangka itu tidak segera mati....mudah-mudahan besok dia sakit dan segera menemui ajalnya” kata-kata itu tak luput dia ucapakan dalam setiap harinya,,, kadang hanya dalam hatinya,, terkadang pula dalam bisikanya sambil terus berpura-pura.

Di suatu malam tepat satu bulan setelah pernikahanya,, tiba-tiba kejadian tak terduga melanda si pemuda.... “Aduh.... sakit,,,” si pemuda teriak sambil memegang perutnya “sakit... perutku sakit sekali” dia terus teriak kesakitan mak Saroh mendekatinya,, biar bagaimanapun dia adalah suaminya,, sebelum ada tetangga mak Saroh memanggilnya dengan panggilan sayang “kenapa sayang’’... kata mak Saroh, karena saking sakitnya pemuda itupun sampai lepas kendali dia tidak sadar kalau dirinya sedang bersandiwara “apa nenek peot, bangsat, sayang-sayang,,,kutu kupret” kata si pemuda itu,, namun mak saroh tidak menghiraukanya,,, pemuda itu terus teriak sampai akhrinya suaranya terdengar oleh tetangga, dan akhirnya tetanggapun berdatangan menengoknya... lalu dipanggilkanlah seorang dokter untuk memeriksanya... “bagaimana keaadanya dokter, penyakit apa ini?” kata seorang laki-laki yang juga masih teman pemuda itu,,, “ jadi begini,” kata sang dokter “iya dok bagaimana” kata lelaki itu lagi memotong, lalu sang dokter melanjutkan penjelasanya “tenang.. teman anda hanya keracunan,, jadi selama ini teman anda terus menerus meminum susu kadaluarsa, jadi ini akibatnya”

“Inalillahi Wainnailaihirojiuun” orang-orang mengucapkan Istirja, ternyata pemuda itu sudah meninggal dunia.

Cerita ini trinspirasi dari cerita seorang bapak yang sudah dimodifikasi oleh penulis, saat penulis nungguin adik sepupu di pondok Darussalam Gontor Putri II, selama satu minggu. Adapun hikmah yang bisa di petik dari cerita tersebut adalah bagaimana pentingnya memulai sesuatu dengan dilandasi niat yang baik, tulus dan ikhlas untuk menggapai ridho Allah, agar tidak terjadi seperti pemuda malas yang malang dalam cerita di atas.

Sejarah Pondok Pesantren Al Hadi Min Aswaja Kota Pekalongan



Pondok pesantren Al Hadi Min Aswaja didirikan oleh kyai abdul Abdul Hadi. Berawal dari sebuah amanah gurunya untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu. Maka  kyai abdul hadi selaku pengasuh pondok pesantren Al hadi min ASWAJA bertekad untuk mendirikan majlis ta’lim di kampung halamanya yaitu panjang wetan kota pekalongan. Pada tahun 2001 beliau mulai merintis majlis ta’lim tersebut. Jiwanya merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakat tempat tinggalnya yang dilanda krisis kehidupan, kyai abdul hadi mendirikan majlis ta’lim sebagai pusat pendidikan dan penyiaran islam. Pada mulanya kyai abdul hadi mengajak teman-teman sepermainannya untuk mengaji bersama dirumah beliau. Dari jumlah yang sedikit dengan terus berusaha dengan diiringi do’a beliau tidak pernah bosan mengajak masyarakat untuk belajar khususnya di bidang keagamaan. Berkat rahmat Allah semakin banyak orang-orang yang mengaji di tempat beliau.  Dari mulai anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua. Dalam mengajak masyarakat Beliau berusaha memasukisemua kalangan dan mengikuti kebiasaan mereka. Itu adalah salah satu cara agar dakwah bisa diterima. Seperti dakwahnya para walisongo.

Dalam mewujudkan cita-citanya, kyai abdul hadi berpedoman pada hadits nabi bahwa kita diisuruh menuntut ilmu dari lahir sampai mati. Jadi selama masih ada nyawa di kandung badan maka kita wajib menuntut ilmu. Tiada perjuangan tanpa pengorbanan begitu pula dalam menyiarkan agama islam. Kyai Abdul Hadi mengorbankan waktu istirahatnya untuk mengamalkan ilmu setelah seharian bekerja, tak hanya waktu tetapi dalam bentuk materi juga beliau relakan untuk menyiarkan agama islam. Pengajian di mulai ba’da maghrib di rumah beliau. Selanjutnya, karena yang mengaji di rumah beliau semakin banyak,  kyai abdul hadi membeli tanah disebelah utara rumah beliau. Diatas tanah tersebut didirikan sebuah pondok Pesantren. Sebidang tanah yang terdiri dari 5 kamar untuk santri dan 2 kamar untuk asatidz. Fasilitas yang sangat sederhana tidak menghalangi semangat kyai abdul hadi untuk membimbing para santri dalam menuntut ilmu.

Pada tahun 2008 pondok pesantren Al Hadi Min Aswaja terdaftar dalam kemenag. Pondok pesantren Al Hadi Min Aswaja adalah sebuah lembaga dengan terus mempertahankan nilai-nilai ajaran Ahli sunah wal jama'ah dan terus mengikuti perkembangan zaman sehingga diharapkan dimasa mendatang para santri dapat melestarikan perjuangan ulama dalam mengembangkan syi’ar islam dalam berbagai situasi dan kondisi.Semula pendidikan di pondok pesantren Al Hadi Min Aswaja ini hanya menggunakan sistem bandongan dan Sorogan. Tetapi seiring dengan perkembangannya maka di tambah dengan sistem madrasah diniyah dimana santri dikelompokkan sesuai dengan kemampuannya sehingga mempermudah kegiatan belajar mengajar.  Lokasi pondok pesantren Al Hadi Min Aswaja tidak jauh dari kampus IAIN Pekalongan. Dengan lokasi yang strategis ini banyak mahasiswa yang ingin menambah khazanah keilmuannya khususnya di bidang agama. Hingga kini santri Pondok Pesantren Al Hadi Min Aswaja mayoritas dari mahasiswa IAIN Pekalongan.



Abdullah Santri Sejati (Cerpen Santri)

Sinopsis 

Al-hamdu begitulah laqob (nama julukan) Abdullah dikalangan teman-temanNya, teman-temanNya, keluarga ndalem bahkan sampai masyarakat yang berada dekat lingkungan pondok tidak lagi memanggil dengan nama aslinya (Abdullah), hingga Abdullah sendiri selalu mengenalkan dirinya dengan sebutan laqobnya terhadap siapapun yang baru dikenalnya.

Abdullah adalah santri yang terkenal paling lemot, sehingga dia selalu kalah dalam hafalan ataupun ngaji oleh yang lainya, bahkan oleh adik-adik angkatanya. Abdullah sudah enam tahun  mondok, teman-teman seangkatanya sudah ngaji alfiah ibnu malik, bahkan ada yang sedang memulai ngaji jauhar maknun ada pula yang mengaji ilmu Arud Wa al-Qoafy juga ada yang ngaji sulamunauroq, sedangkan Abdullah masih mengaji jurmiah dan bab Kalampun dia belum faham, namun ada satu hal yang luar biasa dari Abdullah dia adalah sosok santri yang kebal, dia tak pernah mengeluh berputus asa, dia tak pernah malu diejek, diolok-olok oleh temanya, dan tak pernah menyimpan dendam terhadap orang yang mengejeknya dan satu lagi, Abdullah tak pernah luput dari mengucapkan Al-hamdu Lillah saat menerima olok-olok dan penghinaan yang dilontarkan terhadap dirinya.

Bahkan jika ada perintah dari gurunya bukan hanya sekedar Alhamdulillah yang diucapkanya, tapi sekaligus bersujud syukur saking senangnya, tak pernah ada penolakan bahkan alasanpun tidak. Oleh karena itu teman-temanya memberikan julukan kepadanya dengan panggilan Al-hamdu. Suatu ketika Abdullah dipanggil gurunya, dia langsung menghadap 

“Alh-hamdu,,,” kata gurunya. 

Sumuhun Akang Abdi,,” (iya saya pakyai)

“besok kamu sampaikan suratku kepada Allah SWT”

Seketika alhamdu terkejut dan mendadak hening... “alhamdu,, kenapa?’’ gurunya membuyarkan lamunanya

“ iya pak kiai.. maaf saya melamun” sebenarnya alhamdu masih memikiran tentang perintah gurunya “menyampaikan surat kepada Allah?” katanya dalam hati. karena sebenarnya Alhamdu juga belum Faham tentang konsep tauhid, tapi bagi seorang Alhamdu pantang menjawab apalagi sampai menolak perintah gurunya, alhamdupun langsung menyanggupinya “Ingsya Allah Pak kiai besok saya berangkat, mohon Do’anya”

“ ya sudah kalau begitu, bawalah surat ini” sambil mengasongkan suratnya, Alhamdupun langsung menerima dan membawanya, keesokan harinya pagi-pagi sekali, setelah selesai melaksanakan berjamaah sholat subuh, alhamdu kembali pamit pada kiainya dan minta di Do’akan,, diam-diam gurunya ini heran sambil membatin “ mau kemana anak ini” dalam hatinya. Karena sesungguhnya sang kiai hanya bermaksud untuk menguji kepatuhan muridnya yang satu ini, karena selama enam tahun mondok anak ini tak pernah menentang perintahnya, hingga akhirnya gurunya menguji dengan perintah yang sebenarnya mustahil dilakukan karena tak mungkin allah bisa dilihat dan disentuh, atau dikasih surat oleh manusia, namun ternyata seorang alhamdu benar-benar menunjukan kepatuhanya, al-hamdu tak lagi menanyakan kepada gurunya harus kemana dirinya berangkat.

Setelah bersalaman dengan gurunya, alhamdu langsung berangkat menuju arah barat (Qiblat) karena dalam pikiranya, “aku kalau sholat menghadap Qiblat yang dari tempatku ini diarah barat agak miring sedikit  maka akupun akan mencari tuhan,, sesuai dengan sholatku....” bagaimanakah Abdullah apakah dia benar-benar memberikan suratnya kepada Allah

Abdullah Santri Sejati

Abullah itu Alhamdu

Jam 07:00 bertepatan dengan hari jum’at santri pondok pesantren Nurul huda di Desa cimaragas, kecamatan cimande kabupaten ciamis, jawa barat,, masih seperti jum’at-jum’at yang telah lalu,,, yaitu menjalankan aktifitas Jum’sih (jum’at beresih) kegiatan ini dilakukan oleh semua santri ponpes Nurul Huda tanpa terkecuali,, hanya kalu alasan sakit boleh tidak ikut, kegiatan mingguan ini dipilih di hari jum’at karena memang hari itu pengajian kosong full... 

Hari jum’at adalah hari libur santri nurulhuda,,, para santri beramai-ramai membersihkan pondok dan lingkungan sekitar. Abdullah,, adalah salahsatu santri nurulhuda, dia tampak berada bersama teman-temanya yang lain,,, namun dia terlihat lebih serius, saat teman-temanya beramai-rampai rebutan ondol-ondol dan goreng pisang Bi Tonah [1] dia melanjutkan pekerjaanya, bahkan dia berjalan menengok WC yang terlihat masih hambar-hambar saja, dalam artian belum ada yang membersihkanya, lalu dia mencoba menyirami dan mebersihkan dengan alat-alat yang memang sudah disediakan sebelumnya.

“Abdullah,,, ini minum dulu... makan pisang”... kata Syukronn yang biasa lebih perhatian dari teman-teman yang lainya,,, “Owh.. iya” kata Abdullah. temanya yang lainpun ikut menimpali, dengan guyonan yang bernada ngeledek “biarin aja tho... itung-itung beresihin kepalanya” Abdullah tak lupa menyambut sindiran itu dengan mengucap “Alhamdulillah,,,” Abdullah yang memang hampir setiap hari tak luput dari hinaan dari teman-temanya karena dianggap lemot (lemah otak) tak lupa pula Abdullah memuji tuhanya saat hinaan-hinaan itu dilontarkan kepadanya, bahkan tak jarang sebagian dari teman-temanya yang tak segan-segan, memukul kepalanya, walau pukulan itu tidak keras namun hal itu jelas tujuanya menghina, karena menganggap abdullah tak berharga, selain karena Abdullah penampilanya yang selalu sederhana, biasa-biasa saja juga karena pemahamanya terhadap Agama dianggap tak seberapa, jika dibandingkan dengan teman-temanya, bahkan adik-adik angkatanya, padahal jika dihitung-hitung sudah enam tahun dia di pondok Nurulhuda.

Dan hari ini Abdullah mendapat laqob [2] dari teman-temanya,,, saat Abdullah masih membersihkan WC, sebagian teman-temanya yang sedang asik menikmati ondol-ondol dan wedang teh berunding,, “eh tuh,,, Abdullah gak mau ikut istirahat,, asiknya gimana” kata salah seorang dari teman-temanya. “Ah,,, begini saja,, dia kan selalu membaca Alhamdulillah.. kita samperin aja”

“ samperin,, mau ngapain nyamperin dia?”

“ kita samperin,,, nanti kita godain sambil dicolek jidatnya,,, nah, seperti yang kita tau Abdullh selalu mengucapkan Alhamdu lillah,, nanti kita kasih nama Alhamdu”

“setuju,,,”

“berangkat”

“GPL,,” kata mereka serempak, menandakan kompak.

Akhirnya,,, merekapun berdiri dan bergegas mendekati Abdullah,, dan benar mereka meledek Abdullah dan beraksi sesuai rencananya,,, tidak meleset pula Abdullah mengucapkan Alhamdulillah disetiap colekan (pukulan kecil, sebagai penghinaan) dijidatnya. Mereka mencolek-colek dan ada pula yang mengatakan sok Rajin, dan mengata-ngatai Abdullah.

Akhirnya di sore harinya Abdullah sudah menyandang Gelar Alhamdu dikalangan teman-temanya,, walau tak semuanya dimaksudkan untuk menghinanya,,, salahsatunya Syukronn, dia justru berkata “Abdullah... Kamu memang pantas mendapat julukan itu, karena kamu satu-satunya santri di pondok ini yang bisa memuji Allah SWT dalam setiap suasana, tak hanya dalam keadaan bahagia,,, dan kamu juga santri yang paling kaya, karena kamu sudah kaya hatinya, aku tidak tau teman-teman menjulukimu itu maksudnya apa,, tapi aku justru karena mengagumimu” cukup panjang syukron menjelaskan padanya “Alhamdulillahhirobilalamiin, Hatur nuhun mang Syukron (terimakasih Kang Syukronn)” jawab Abdullah sambil tersenyum.

Tak terasa... satu bulan sudah setelah Alhamdu terlahir,,, kini nama Alhamdu semakin terkenal,, semakin populer bukan hanya dikalangan teman-teman santrinya,, keluarga kiai,, bahkan warga yang berada dilingkungan pondok, memanggil dengan laqobnya, begitu pula dengan Abdullah kini dia selalu mengenalkan dirinya sebagai Alhamdu, kepada siapapun.

Tak lupa... teman-temanya, setiap berpapasan dengan Abdullah selalu menyapa “Alhamdu,,,,” namun tak lupa pula untuk colekan di jidatnya tidak boleh ketinggalan, begitu pula dengan Abdullah dalam setiap colek atau hinaan tak boleh terlewatkan untuk memuji Allah SWT. Waktu terus berjalan.. hari berganti hari,,,minggu-minggu terus berlalu, semakin lama nama Abdullah sudah benar-benar tergantikan posisinya oleh Alhamdu... jarang sekali, bahkan hampir tidak ada yang memanggilnya Abdullah,, santri, keluarga Ndalem maupun Warga sekitar semua mengenal dan memanggilnya sebagai Alhamdu.

Alhamdu Mengemban Amanah

[1] Penjual goreng-goreng langganan para santri
[1] Nama julukan

Bersambung...

Oleh : Ibnunnazmi (sang putra bintang) El-bantarkawungi


Sketsa Santri (Cerpen Santri) Part 2


Setibanya di Pekalongan…

“Assalamu’alaikuum…”
“Wa’alaikumussalaam…”
“Ya Allah. Ternyata anak Bapak pulang. Syukurlah kamu selamat Nduk.” Ku cium tangan Bapak dengan penuh kelembutan.
“Ibu teng pundi, Pak? “(Ibu dimana, Pak?)
“Ning warunge Om Jagad. Mriko disamper mawon.” (di warung Om Jagad. Sana datangi saja.)
“Nggih, Pak” (Iya, Pak)

Selain bekerja sebagai buruh cuci, Ibu juga ikut membantu usaha  warungan milik Om Jagad. Lumayanlah untuk menambah uang simpanan kebutuhan setiap harinya. Warung milik Om Jagad ini memang tidaklah besar, tapi cukup banyak orang  yang sering membeli makanan di warung miliknya.

“Masakannya enak, Ja. Kamu pintar milih koki” Seloroh salah satu pembeli suatu ketika yang memang sering mampir ke warung Om Jagad.

Banyak yang bilang masakan Ibu rasanya pas, enak, dan ngangenin. Itulah mengapa warung Om Jagad selalu tak sepi dari para pembeli.

“Assalamu’alaikum, Ibu”.
“Wa’alaikumussalaam. Eh sudah pulang, Nduk?”

Ku datangi Ibu yang tengah sibuk membungkus nasi pesanan pembeli. Dan ku cium tangannya dengan penuh kerinduan. Ku cium pipi kanan-kirinya, dan  Ibu membalas dengan mencium keningku.

“Iya, Bu. Alhamdulillah Rahma selamat sampai Pekalongan. Ibu ndak usah khawatir karena Rahma pulang bareng Kang Ahmad”
“Ooh. Ya syukurlah kalau begitu. Kamu belum makan kan, Nduk?. Ini Ibu bungkuskan telur dadar 2, untuk Bapak juga ya. Oh, iya. Jangan lupa salim dulu sama Om Jagad”
“Iya, Bu”.

Setelah menemui Om Jagad, Aku pun langsung pulang membawa lauk untuk makan siangku dengan Bapak.

****

The number one for me ..
The number one for me ..
The number one for me ..
Oh.. oh.. Number one for me 

Ketika sedang asyiknya mendengarkan musik berjudul ‘Number One For Me’ yang dipopulerkan oleh Maher Zein…

Tok tok tok

Terdengar ketukan pintu dari luar rumah

“Assalamu’alaikuum”
“Wa’alaikumussalaam”

Deg. Aku dibuat terkejut oleh kedatangan tamu  malam ini. Ku lihat sosok yang tak asing lagi bagiku beserta kedua orangtuanya yang berada persis disampingnya.

“Silahkan masuk, Pak, Bu. “
“Bapak ada, Ma?”
“Oh. Ya Pak. Ada di belakang, tunggu sebentar saya panggilkan”

Dag-dig-dug, dag-dig-dug, dag-dig-dug.

Dada berdebar semakin kencang. Tak karuan rasanya. Apa mungkin malam ini Kang Ahmad benar akan mengkhitbahku? Secepat itukah?

Tak mau pusing dengan berbagai prasangka, aku langsung menuju kamar. Terdengar samar-samar pembicaraan antara Bapakku dengan Pak Adnan. 

“Kira-kira kapan waktunya?”
“Setelah lebaran tahun ini saja, Pak. Tak usah berlama-lama.”

Hah? Setelah lebaran nanti ada apa. Apa mungkin lebaran nanti aku akan…

“Nduk, buka pintunya. Ibu mau bicara”

Ku persilahkan Ibu masuk ke kamar.

“Begini, Ma. Kamu sudah tahu kenapa si Ahmad datang ke rumah sambil mengajak orangtua nya?”

Aku hanya diam.

“Ibu rasa kamu sudah paham nduk. Tak perlu Ibu menjelaskan panjang lebar. Jadi bagaimana menurutmu?”

Ku peluk Ibu erat-erat. Tanpa terasa air mata ini mengalir begitu deras.

“Rahma minta maaf, Bu. Rahma masih ingin nyantri dan menimba ilmu.”

Tangisku semakin pecah

“Ssst. Sudah jangan keras-keras, Nduk. Ndak enak kalau Pak Adnan dan keluarganya mendengar. Ya sudah, kalau itu menjadi keinginanmu. Ibu harap kamu tak menyesal atas keputusan yang kau ambil. Banyak yang ingin menjadi besan Pak Adnan; Baik, dermawan, orang berada, religius, semua hampir ada pada keluarganya. Tapi, jika itu maumu Ibu tak bisa memaksa.”

Ibu pergi meninggalkanku sendirian. 

“Apa??? Rahma menolak untuk saya khitbah??”
“Maaf. Maaf sekali Mas Ahmad, bukan maksud kami untuk mengecewakan Mas dan keluarga. Rahma sendiri yang belum siap, dan masih ingin nyantri” Dengan hati-hati Bapak menjelaskan.
“Sudahlah, kita pulang saja Pak, Bu. Orang tak mampu saja sombong, berani menolak pinanganku.”

Plakkk.  Pipi Kang Ahmad memerah, ia mengerang kesakitan sambil memegang pipi kirinya.

Pak Adnan menampar anaknya dihadapan kedua orang tua Rahma.

“Sungguh memalukan!. Bapak kecewa dengan sikapmu, Ahmad.”

Pak Adnan dan keluarganya segera undur diri.    


Semenjak  kedatangan keluarga Kang Ahmad dan orangtuanya malam itu, Bapak tak lagi pergi menggarap padi di sawah. Pasalnya, sawah yang Bapak garap adalah sawah milik Pak Adnan.  Ku dengar dari para tetangga, Kang Ahmad yang memberhentikan Bapak bekerja di sawah milik orangtuanya. Sungguh kejam. Aku sedih mendengar Bapak tak lagi bekerja, meski begitu Bapak tetap sabar dan menerimanya. 

“Ndak usah merasa bersalah Nduk. Rejeki sudah ada yang mengatur, kita pasrahkan saja dengan Sang pemberi kehidupan”

Aku hanya diam sembari melipat baju yang sudah kering dari  tempat jemuran.

“Bapak heran dengan sikap Ahmad. Dulu sewaktu kecil, Ahmad termasuk anak yang paling rajin mengaji, dan gemar membantu orang lain. Tapi kenapa sekarang dia berubah seperti itu, Ma?”
“Entahlah, Pak. Rahma  juga tidak tahu.  Kang Ahmad yang dulu baik, sekarang menjadi seperti itu.”

Jarum jam menunjukkan pukul 2 siang. Perutku sudah keroncongan sejak dhuhur tadi. 

“Pak, Rahma mau ke warung Pak Jagad mengambil  lauk seperti biasa.”
“Iya, Nduk. Hati-hati di jalan banyak kendaraan.”

Kring-kring kring-kring… ku naiki sepeda onthel milik Bapak. Meski sudah cukup kuno, tapi tampilannya masih oke karena Bapak rajin merawatnya. Baru beberapa meter mengayuh sepeda, aku dikagetkan dengan suara klakson motor.

Tit… tiiit…

Keseimbanganku hilang  dan akhirnya,  

Brakk. Aku terjatuh, lutut terasa perih. 

“Hahaha… itu hadiah untukmu, Ma”

Ku dongakkan kepala sambil merintih  kesakitan,

“Jahat benar kamu, Kang. Tak ku sangka akan sekejam ini”

Cairan merah keluar dari kedua lututku. Aku pusing dengan sikapnya yang berubah begitu cepat. 

“Cukup. Cukuup, Kang. Jangan lagi mengganggu kehidupan keluargaku. Setelah kamu dengan seenaknya memecat Bapak, sekarang kamu menyerempet sahabat kecilmu sendiri. Awas saja jika terjadi sesuatu pada Ibu. Sudah, aku menyerah!” Ku pejamkan mata sejenak, berharap masalah yang datang bertubi-tubi berharap membaik.

Ketika ku buka mata…

“Ma.. Woii. Bangun-bangun. Bis jurusan Pekalongan mau berangkat nih.”
“Kok, bisa?” Aku linglung.
“Maaf, ya. Kamu jadi nunggu lama soalnya tadi aku bangun kesiangan. Jadi, baru sampai kesini, deh.”

Jadi, ternyata hanya mimpi? Alhamdulillah. Lucu juga mimpi seperti itu. Tak bisa ku bayangkan seperti apa jadinya kalau itu terjadi di dunia nyata. Aku pun tersenyum geli.

“Idih, bangun tidur malah senyum-senyum. Aneh kamu, Ma.”
“Huu. Suka-suka dong.”
“Pasti baru mimpiin aku, ya?”
“Maaf, ya. Mending mimpi ketemu hantu deh dari pada ketemu kamu.”

Mimpi yang seakan nyata. Hmm. 

Tujuanku sekarang adalah menuntut ilmu untuk bekal dunia hingga akhirat nanti. Belajar menjadi anak yang salehah dan berbakti kepada kedua orang tua menjadi tekad kuatku. Syukur-syukur ilmu yang aku peroleh dapat memberikan banyak  kemanfaatan dan keberkahan baik untuk diri sendiri,  keluarga, maupun masayarakat.  

Kami pun segera memasuki bus untuk segera menuju Pekalongan.

Tamat.

Oleh : Adilatul Ismah | Alumni PP. al-Hadi Aswaja

Sketsa Santri (Cerpen Santri) Part 1

Sketsa Santri (Cerpen Santri) - Alhadi aswaja
“lariii! Ayo Ma, cepetan. Orang gila nya ngejar-ngejar kita terus.”Kang Ahmad berteriak menggandeng tanganku untuk segera meninggalkan lapangan.Aku semakin dibuat takut oleh orang gila itu yang masih saja mengejar-ngejar kami. Setelah aku menoleh ke belakang “Kang Ahmaaad! Dasar kau, tega sekali bohong padaku.

”Uhh.Kesekian kalinya aku tertipu oleh ulah Kang Ahmad.Aku heran dengan tingkahnya yang selalu saja berbuat usil padaku.Padahal kita selalu bermain bersama.Tak pernah sekalipun aku berbuat curang sewaktu bermain dengannya, tapi nyatanya… tidak ada toleransi sedikitpun untukku sebagai sahabat karibnya.Aku pun berlalu meninggalkannya sendirian di pinggir lapangan. Dan seperti yang aku lihat sekarang,dia masih saja tertawa jahat karena telah berhasil menjahiliku kembali.


Empat tahun kemudian…

Allahu akbar 2x…

Adzan maghrib menggema mengundang jiwa-jiwa yang masih menyatu dengan raga, sejenak rehat dari kesibukan duniawi. Memenuhi panggilan dari Sang Ilahi Rabbi.Suara yang cukup aku kenal siapa pemiliknya.Iya, dialah Kang Ahmad.Dia yang sering dan bahkan hampir tiap hari mengumandangkan adzan di masjid Pondok Pesantren.

Pondok Pesantren Darul Ilmi adalah pesantren tempat kami menimba ilmu.Tepatnya berada di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur.Jumlah santri yang ada mencapai 500 santri baik putra maupun putri termasuk aku di dalamnya.

RahmaZaida. Itulah nama yang Bapak berikan untukku atas masukan salah seorang Pak Kyai di Desa tempat aku dilahirkan dan tinggal sampai sekarang.

Pondok Pesantren Darul Ilmi juga sudah cukup lama berdirihampir 15 tahun lamanya.Di dalamnya terdapatBangunan pondok antara santri putra dan putri cukup dekat, hanya saja dibatasi oleh Ndalem Abah Kyai, juga rumah para Dewan Asatidz yang mengajar di PonPes.

Pesantren berbasis salaf ini masih banyak diminati oleh masyarakat.Pendidikan yang diajarkan banyak menggunakan kitab-kitab kuning,dibarengi dengan metode pembelajaran klasik.Di dalamnya terdapat peraturan yangmewajibkan seluruh santri untuk berjamaah di masjid yang terletak persis di sebelah rumah Abah Kyai.Jadi, antara santri putra dan putri jelas tidak bisa bertemu karena terhalang rumah Abah Kyai dan juga Masjid Pondok.

Ditambah pula dengan luasnya bangunan Pondok Pesantren putra yang berjumlah 200 orang, maupun bangunan di PonPes putri yang menampung 300 santri. Menyerupai kompleks perumahan yang masing-masing kamar berisi 20 orang. Ada yang dari Jawa tengah seperti Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, dan Batang.Yang dari Jawa barat seperti Cirebon, Sukabumi, Bogor, juga tak sedikit dari wilayah Jawa timur sendiri.

“Dik Rahma, nanti Mbak Ifa minta tolong diantar beli kitab, ya. Di kantor pengurus putri. Tadi siang katanya pengurus baru beli kitab Mukhtar Al-hadits An-nabawiyyah yang besok pagi digunakan untukmengaji.Kamu, sudah beli?” Tanya Mbak Ifa padaku

“Belum, Mbak.” Jawabku datar,

“Iya sudah, nanti kamu juga jangan lupa, ya.Bawa uangnya Dik, masih ada uang, tho?”Cerocos Mbak ifa Khas dengan logat Jawa Timurnya.

4 tahun sudah kami Saling mengenal.Banyak kisahyang sudah kami rajut bersama.Disaaat senang, sedih, apapun keadaannya kami selalu melaluinya bersama.Sewaktu Mbak Ifa ada uang lebih, dia selalu menawariku untuk makan bersama dan aku tak pernah membayar. Dia selalu menolak jika aku akan mengembalikan uang.

Jika aku sedang tak punya uang karena kiriman belum datang, dia termasuk orang pertama yang menawariku untuk meminjamkan uang.Dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Begitupun Mbak Ifa, Dia juga telah menganggapku sebagai adiknya.

Mbak Ifa termasuk anak dari keluarga berada.Sedang aku hanyalah anak seorang buruh tani yang hasilnya belumlah seberapa.Hasil dari pekerjaan Bapak masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, itu pun sudah lebih dari cukup dan kami mensyukurinya.Bapak dan Ibu selalu mengajariku untuk belajar hidup prihatin, legowo, dan bersyukur.

“Nduk, sekarang kamu sudah SMA.Kebutuhanmu pasti lebih banyak dibanding ketika masih SMP.Kamu harus belajar menerima apa yang Gusti Allah berikan untuk keluarga kita. Meskipun Bapak hanya Buruh Tani dan Ibumu Buruh Cuci baju, tapi Bapak dan ibu sanggup menyekolahkanmu sampai kuliah nanti.Bapak yakin saja, meski nafkah yang Bapak cari ini belum seberapa, namun Bapak yakin bisa menyekolahkan kamu sampai tingkat sarjana.Meski sedikit insya Allah berkah.”

“Benar nduk apa yang Bapakmu tadi katakan. Kita harus bersyukur dengan apa yang Gusti Allah berikan. Sebagai seorang anak kamu hanya wajib belajar dan selalu mendoakan Bapak Ibumu, supaya diberi kelancaran dan kemudahan dalam mencari rezeki.Dengan terbiasa Hidup prihatin, ketika nantinya kamu sudah berkeluarga dan suamimu termasuk orang yang berpenghasilan tak seberapa, kamusudah terbiasa hidup sederhana tanpa merasa menderita karena tak ada uang.Uang hanyalah sebagai pelengkap, yang penting di dalam keluarga harus ada sikap saling menerima dan bersyukur antara suami dan istri”.

Ingin rasanya menangis, ketika mengingat nasehat Bapak dan ibu.Dengan kesederhanaan Bapak, Ibu mampu menerimanya dengan legowo, tak perrnah sekalipun ku lihat wajah Ibu marah ataupun lisan beliau mengatakan sebuah keluhan dengan keadaan seperti ini.Malu juga rasanya, pasti kalau sudah menasihati ujung-ujungnya membahas kehidupan rumah tangga. Padahal kan, aku baru kelas 1 SMA. Apa mungkin karena kebanyakan teman satu agkatanku yang di Desa sudah yang banyak menggendong anak sehingga menurut Bapak dan Ibu aku sudah pantas untuk mendengarnya? Entahlah.Yang pasti, aku harus rajin di pesantren, giat mendoakan Bapak-Ibu, dan mengaji dengan semangat.Harus ku buat Bapak dan ibu bangga dengan anak satu-satunya ini.

“Dik, kok melamun, tho.Sudah iqomat tuh. Ayo sholat maghrib dulu. Memangnya kamu ndak takut apa kena takzir dari pengurus.Disiram pakai air comberan, mau?, “hahaha…”

Mbak Ifa dan aku tertawa berbarengan dan seketika menutup mulut karena Ning Rima lewat di depan kami untuk ikut berjamaah.

****

Assalamu’alaikum. Wr.Wb.

Diberitahukan kepada segenap santri putra-putri DarulIlmi, untuk segera mempersiapkan diri guna mengikuti pengajian Madrasah Diniyah. Cukup sekian dan terimakasih.
Wassalamualaikum.Wr.Wb.

“DikRahma. Ayo, berangkat. Cepetan!biarkitadapattempatdudukdi depan.”

“Iya, MbakIfaaa. Sebentar.Lagipakaikerudung” Imbuhku.

Selalu Mbak Ifa yang lebih dulu siap berangkat mengaji di banding aku. Itulah salah satu alasan yang membuatku senang berteman dengannya, soal mengaji dia yang nomor satu.Selalu berangkat ingin lebih dulu dibanding temansantrilainnya.Dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim sudah dijelaskan beberapa macam tipe seorang teman yang baik, yang bisa menghantarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Senyumkupun mengembang.

Di Pon-Pes Darul Ilmi antara santri putra maupun putri, masuk pengajian madrasah sesuai kelas masing-masing. Tiap kelasnya dipisah antara santri putra maupun putri. Terkecuali untuk kelas wustho. Sedikitnya Dewan Asatidz yang mengajar dari kelas ini, muncullah keputusan dari Abah Kyai secara langsung untuk menggabung kelas wustho antara putra dan putri menjadi satu dengan dibatasi Satir.

“Eh, Dik.Kamutahu, ndak? Ada santribaru di kelas kita” Seru Mbak Ifa

“Lha, kok.Mbakbisatahu?Jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa Dik? ”Mbak Ifa memandang wajahku dengan pandangan cemberut. Bibirnya sedikit mancung beberapa senti.

“Mbak tahu kabar ada santri baru yang masuk kelas kita dari Ibu. Kemarin siang Ibu memberi kabar melalui telfon Pondok, katanya sepupu Mbak mau nyantri disini. Dan waktu Mbak Tanya kesalah satu MbakNdalemtadisore,

“Ada santri baru Fa, dari Kediri katanya. Dia juga punya saudara sepupu di santri putri, namanya Ifa Hanifa. Itu nama kamu, kan?”

“Kata Mbak Atun seperti itu.Sewaktu Mbaktanya namanya, dijawab “Muhammad khoirul Umam”.Kan benar itu nama Mas Sepupu Mbak. Kata Mbak Atun lagi,masuknya kelas Wustho, kelas kita.”Papar Mbak Ifa panjang lebar.

Sebenarnya, mau ada santri baru ataupun tidak, tetap saja aku tidak akan tahu. Kenapa?,Antara santri putra dan putri dibatasi oleh kaca hitam, ditutup gorden pula. Jelas kami takkan pernah bisa saling tahu nama dan seperti apa teman santri yang satu kelas dengan kami.

Dewan Asatidz yang mengajar menggunakan microphone karena jumlah santri yang ada di kelas kami sebanyak 50 santri: putra 20 sedangkanputri 30.

“Wassalamu’alaikum. Wr.Wb.”Pak Ustadz Anam mengakhiri pengajian MaDin.

Seluruh santri putri segera kembali menuju pesantren.

“Rahma, nanti aku pinjam kitab yang baru saja diajarkan Pak Ustadz Anam, ya. Ikut melengkapi Afsahan kitab. Soalnya tadi …. hehe” Pintanya malu-malu sambil memainkan ujung jilbabnya sendiri.

Sudah bisa aku tebak, pasti tadi dia mengantuk. Aku amat heran dengan satu temanku ini. Untuk sehari-harinya, aku rasa Atikah punyawaktu yang cukup untuk istirahat, tapi herannya, diasering bahkan selalu mengantuk sewaktu mengaji.

Dengan memasang wajah senyum pertanda aku mengijinkan,

“Iya, deh.Tapi, hati-hati, ya.Tolong dijaga kitabnya. Soalnya aku pernah meminjamkan kitab tapi sewaktu kembali dalam posisi agak lecek, sedikit sobek, pula”

“Iya, Ma. Jangan khawatir. Pasti! Pasti aku jaga dan rawat baik-baik, kok.”

Dalam hitungan detik kitabku segera berpindah ketangan Atikah.

***

Malam berikutnya, seperti malam-malam biasanya. Suasana kelas wustho ramai jika Dewan Asatidz yang mengajar belum hadir. Entah putra mapun putri, tak ada bedanya.

“Assalamu’alaikum.Wr. Wb. Mohon maaf sebelumnya untuk teman-teman santri putra maupun putri. Tadi saya dapat amanat dari Pak Ustadz Nasir, katanya beliau datang terlambat.Kita mendapat tugas musyawarah pelajaran yang minggu lalu telah di bahas beliau.”

“huuuuu.”

Sontak seisi ruang kelas bergemuruh menyambut suara dari microphone santri putra.

“Mohon maaf untuk teman-teman semua.Saya memang mendapat pesan ini dari beliau, kalau tidak percaya ya, sudah.”

“Beliau akan hadir 30 menit lagi tepat pukul 21.00 WIB. Jadi, ayo kita manfaatkan waktu 30 menit ini sebaik mungkin. Langsung saja saya dan satu teman putra yang akan memimpin jalannya musyawarah pada malam hari ini.”

Dari cara santri putra itu berbicara, ketus sekali rasanya. Awalnya sih lumayan sopan.Seterusnya… seperti itulah.

Tempat duduk di kelas kami menghadap arah barat, santri putra pun demikian. Untuk santri putra barisan depan, sedang santri putri tepat di belakangnya, hanya saja dibatasi oleh kaca hitam yang besar, tertutup oleh gorden.

Pada kaca besar ini terdapat bagian tengah yang bisa dibuka sewaktu dewan asatidz menerangkan.Meski bisa dibuka,tetap saja hanya sedikit santri yang bisa melihat karena lebarnya tidak lebih dari satu meter. Sebenarnya, bisa saja bagi santri yang ‘suka berekspresi’ akan membuka kaca ini disaat asatidz belum hadir. Namun karena mungkin santri di sini banyak yang tawadhu’ dan takut melanggar, tindakan seperti itu belum pernah terjadi.Aku husnudzon saja.

“Perkenalkan kami yang di depan ini, saya sebagai MC Ahmad Zidni, dan sebelah saya Muhammad khoirulUmam”

“Cieeee…” Seluruh santri putra maupun putri bersorak pada santri putra yang memperkenalkan diri itu.

Ku lihat mereka saling berbisik. “Seperti apa, ya. Rupa santri putra itu.” Ku dengar dari beberapa santri putri yang tengah asyik membicarakan si empunya suara.

“Kalau saja, kaca yang tengah itu dibuka, pasti aku bisa melihatnya, hehehe..” Suara yang lain menimpali.

“Dik, kamu dengarndak nama yang tadi disebut dari microphone?”

“Memangnya kenapa,Mbak?”

“Lho..itu lho, tadi. Muhammad khoirulUmam. Itu kan nama sepupu Mbak. Hebat juga dia. Masih jadi santri baru, sudah diminta untuk memimpin musyawarah”

“Aku rasa dia pintar, Mbak.Buktinya bisa langsung masuk kelas wustho”.Ku pasang wajah antusias pada MbakIfa sambil memain-mainkan Bolpen hitech yang baru ku beli tadi sore.

Sepertinya suara itu, suara Kang Ahmad tetanggaku.Masa iya, dia satu pondok dengan aku?Apa mungkin itu Kang Ahmad yang selalu adzan di masjid Pondok ? Entahlah.

“Oh, iya.Mbak baru ingat.Mas Umam memang sebelumnya pernah nyantri.Ndak tahu dimana.Cuma, yang Mbak tahu Mas Umam dulu nyantri di Pekalongan, kurang lebih 6 tahun lamanya. Sudah hafal Nadhom alfiyah juga lho…”

“Wah..lama juga ya, Mbak?”

“Ya..begitulah.”

Musyawarahpun berlangsung cukup ramai.Banyak pula pertanyaan yang diajukan baik dari santri putra maupun putri.Tidak sulit bagi kami untuk ikut bertanya karena di tempat putri ada fasilitas berupa microphone yang memang digunakan untuk mebantu santri putriyang ingin bertanya.

30 menit kemudian Pak Ustadz Nasir hadir.Hasil musyawarah segera dibahas langsung oleh beliau.

Selepas pengajian malam itu, aku dan Mbak Ifa tidak langsung pulang. Menunggu antrian keluar dari santri putri lainnya, juga karena kami duduk paling depan pastinya, kami pulang lebih akhir.

“Mbak.”

“Iya, Dik. Ada apa tho?” jawab Mbak Ifa penuh tanda tanya.

“Mas Umam itu saudara Mbak, kan?”

“Iya.Terus, kenapa?”

“Nggak apa-apa sih.Cuma tanya, hehe.”

“Ah, kamu Dik.Mbak kira mau tanya apa. Atau jangan-jangan kamu…” mataMbak Ifa memandangiku penuh selidik. Seperti seorang detektif yang berusaha mencari tahu tentang suatu kasus.

“Nggak apa-apa. Cuma tanyaMbak”

Ya Allah apakah benar ini yang namanyaMahabbah? Ataukah hanya nafsu sesaat?, sejak musyawarah pengajian MaDin tadi, aku cukup dibuat kagum oleh kepandaian santri baru yang katanya masih saudara Mbak Ifa. Selama 4 tahun di sini, baru ku temui santri sepandai Kang Umam. Meskipun tidak tahu seperti apa rupanya, tidak aku persoalkan. Entahlah, perasaan aneh ini tiba-tiba saja muncul.

Yang jelas, tujuan awalku di pesantren, bukan lain hanya untuk menuntut ilmu. Jadi, aku harus semangat belajar untuk bisa membuat bapak dan ibu bahagia. Biarlah rasa ini terbungkus rapi di dalam hati. Hanya Allah dan aku yang tahu.Akan ada waktunya aku memikirkan hal itu.

###

Oh senang hati puasa telah tiba sebelas bulan menanti akhirnya sampai juga…

Ketika suara bedug bertalu-talu…

Dan adzan dikumandangkan selalu…

Semua keletihanpun sirna…

Yang ada hanya rasa… gembira…

Aku ingat betul, lagu yang kunyanyikan ini adalah lagu yang sempat populer pada ramadhan tahun 2003-2004.Lagu ini merupakan lagu wajib yang biasanya dinyanyikan oleh anak-anak peserta serunai ramadhan.Acara yang menampilakan unjuk kebolehan suara ini, cukup banyak menarik perhatianmasyarakat pada masa itu.

“Dik.Ndak terasa, ya.Sudah mau 4 tahun kita di sini.Itu artinya sudah cukup lama kita saling kenal. Tapi anehnya, kamu belum pernah sekalipun main ke rumah Mbak, Hemm..”Mbak Ifa menghela nafas.

“Hee, iya Mbak.Jangan khawatir.Sebentar lagi kan kita mau libur hari raya, nanti sebelum pulang ke Pekalongan aku main dulu ke rumah Mbak, ingsya Allah”.

“Eh, eh, Lho…apa kamu nanti ndak ditanyakan sama Bapak-Ibumu di rumah. Terus, apa kamu ndak takut tho, ilmu yang sudah kamu pelajari di pesantren akan hilang karena kamu ndak pulang dulu kerumah?”

“Hemm.Iya sih, Mbak. Tapi kan, kalau aku harus pulang dulu justru akan menambah ongkosperjalanan. Mbak nggak usah khawatir. Nanti aku ijin Bapak lewat telfon rumah tetangga, tapi aku diantar ke Wartel dulu ya, sebelum aku ikut ke rumah Mbak?”,

“Sipp, Dik. Nanti pakai uang Mbak saja kalau mautelfon Bapakmu, ndak usah mikir buat mengembalikan uangnya.Kita kan, saudara”.

Mbak Ifa tersenyum padaku. Aku langsung memeluknya penuh haru.

Beruntung sekali aku bisa mengenalmu Mbak, semoga ikatan persaudaraan ini tidakakan berakhir meskipun nantinya kita sudah tidak nyantri bersama.

“Sudah, sudah.Ndak usah kelamaan kamu meluk Mbak. Nanti teman-teman yang lain pasti mengira yang tidak-tidak, hehe…”

“Aih, Mbak itu ngomongnya ngelantur”.

Jum’at kali ini, terasa berbeda dengan hari jum’at biasanya.Kok bisa?karenasemua santri Darul Ilmi tengah bersiap-siap untuk mudik libur lebaran. Tak ada satupun wajah sedih yang tampak dari wajah kita semua. Ada yang tengah melipat baju-baju yang akan dibawa ke rumah, ada pula yang asyik berbincang-bincang; bercanda gurau, mengucapkan salam perpisahan sebelum mereka pulang ke istana masing-masing, dan kesibukan lainnya yang mereka lakukan sebelum pulang.

Alhamdulillah, kami semua sudah sowan ke Abah Kyai dan keluarga. Tak lupa Abah berpesan untuk ‘selalu menjaga nama baik almamater Pondok Pesantren Darul Ilmi’, dan Abah menitipkan salam untuk Bapak-Ibu kami di rumah.

Selepas sowan dengan Abah Kyai, para santri berkumpul sesuai rombongan masing-masing. Aku yang biasanya pulang ikut jurusan Pekalongan, kali ini harus ikut jurusan Kediri karena akan ikut dengan Mbak Ifa. Bus yang kami tumpangi adalah salah satu fasilitas dari pesantren untuk mengantar kami pulang. Namun tidak sampai depan rumah, hanya berhenti di alun-alun kota dari masing-masing wilayah.

Bus yang membawa kami ke wilayah Kediri sudah berangkat dalam beberapa menit.

Hoammm.Rasa kantukku datang.Ku sandarkan kepala di pundak Mbak Ifa.Untuk hitungan ke 20, suara bus sudah tak terdengar lagi bagiku.Seketika, tidak ada hal lagi yang ku ingat.

###

Subhanallah. Rumah Mbak Ifa besar juga, ya?. Meskipun yang aku tahu Mbak Ifa selalu bisa memberiku uang pertanda dia anak orang mampu, tapi cara dia berpakaian tidak menunjukkan anak siapa dia berasal.

“Dik, kamu tiduran dulu saja di kamar. Pasti masih capek tho? Mbak mau keluar sebentar.Ibu meminta Mbak untuk mengirim makanan ke rumah Budhe.”

“Ooh, iya Mbak. Santai saja. Nggak usah khawatir aku ditinggal sendirian, ini kan rumah aku juga kan Mbak, kenapa harus takut sendirian di kamar sendiri. Haha..PD-nya aku”.

Mbak Ifapun berlalu meninggalkanku sendirian.

****

Malam hari di wilayah Kediri terasa sejuk.Angin malam yang berhembus memasuki jendela kamar Mbak Ifa dengan lirihnya. Bintang-bintang di langit, nampaknya tengah asyik bersenda gurau, memancarkan cahaya , meramaikan langit di atas sana. Dari jendela kamar, sangatlah jelas dan nyaman untuk menikmati suasana kota Kediri di malam hari. Ahh, sungguh nikmatnya malam hari ini.Ku seruput teh yang di hadapanku secara perlahan.Hemm, kehangatannya terasa nikmat ketika melewati tenggorokan.Sambil ku nikmati pisang goreng yang sore tadi ku goreng sendiri, menemani Ibunya Mbak Ifa yang sedang sibuk membuat menu makan malam.

Ya Allah, sungguh nikmat yang tiada aku dapat gaMbakrkan lewat kata-kata.Hanya bisa dirasakan lewat hati.

Sudah hampir pukul 8 malam ternyata. Tapi, kenapa Mbak Ifa belum juga pulangdari rumah Budhenya?.Mungkin saja Budhenya sangat merindukan Mbak Ifa, jadi tidak ingin dia cepat-cepat pulang ke rumah. Cerita yang pernah ku dengar dari Mbak Ifa, dia memang amat disayang oleh Budhenya. Kemanapun Budhenya pergi, selalu membawakanoleh-oleh untukMbak Ifa meski dia sendiri tidak memintanya.

“Dorrrr..Hayo, melamun. Lagi mikir apa kamu Dik? baru aku tinggal beberapa jam saja sudah kehilangan Mbak”.

“Yee.PD sekali Mbak ini. Lihat sendiri kan,Mbak. Adikmu ini sedang asyik menimati suasana malam di Kota Kediri. Sambil menikmati hangatnya teh, juga pisang goreng.Ini, mau, nggak?”

“Ndak, ah.Mbak sudah kenyang.Tadi di rumah budhe, Mbak disuruh makan bersama.Ya sudah, Mbak ndak bisa langsung pulang. Oh iya, ini kamu dapat surat Dik. Katanya salam juga buat kamu. Cie… kayaknya ada yang kesengsemnih, sama kamu Dik.Mau Mbak bacakan suratnya sekalian buatmu?”Mbak Ifa tersenyum menggoda kepadaku.

“Ahh.Mbak.Nggak usah ngelantur.Aku bisa baca sendiri kok, wee”.
Perlahan namun pasti, ku buka amplop merah jambu yang ku terima dari Mbak Ifa.Tercium bau wangi sesaat ketika aku mulai membuka isi amplop itu.

Teruntuk Dik Rahma yang manis

Assalamu’alaikum…

Hai, bagaimana kabarmu Dik? Semoga, kau selalu dalam limpahan rahmat dan ridha Allah SWT. Amin.

Alhamdulillahilladzi qod waffaqo… lil’ilmi khoiro kholqihi walittuqo…

Sebagai pengantar surat ini, ku selipkan sedikit bait nadhom amriti untukmu.

Entah, semenjak kapan aku merasakan hal aneh yang ada pada diriku.

Ku akui, kau tak secantik wanita zaman sekarang. Yang suka bersolekkemanapun ia pergi. Ku akui, kaupun tak berpakaian modis sebagaimana dandanan busana anak muda pada umumnya. Namun, ada satu hal yang tidak dimiliki oleh wanita diluar sanayang ada pada dirimu .

Kau begitu manis, cantik di luar, dan cantik dari dalam. Aku tahu, di balik kesederhanaanmu, kau mempunyai hati yang lembut.

Aku hanya berharap kepada Allah SWT. Jika memang Dia perkenankan aku bisa mengenalimu lebih jauh walaupun lewat surat, aku sangat bersyukur. Namun jika tidak, aku akan mengikhlaskanmu Dik.

Salam kasih untuk dirimu Dik Rahma. Semoga allah SWT selalu melindungimu dari segala keburukan. Amin.
Wassalam…

“Cie..cie.. yang lagi berbunga-bunga dapat surat cinta. Coba Mbak Lihat suratnya.Apa sih, isinya? sampai-sampai adik Mbak ini terpaku, terdiam ndak ada suaranya”.

Tiba-tiba…

“Mbak Ifa. Jangan dibaca! Bawa sini”. Ku rebut surat yang searang tengah di tangan Mbak Ifa.

“Yee. Gitu aja ko ngambek tho, Dik. Iya, iya deh.Mbak Ifa ngaku salah.”Sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.Dan langsung memelukku.

“Oh, iya Dik. Tadi katanya ada yang mau ikut pulang bareng sama kamu. Tetanggamu ngakunya.Ehemm, siapa ya tadi namanya? Ah… Ahmad kayaknya.Besok kamu disuruh nunggu dia di halte dekat pasar Kediri.Jam 10 pagi diasudah nunggu kamu di sana.”

Ternyata Kang Ahmad benar nyantri di pesantren yang sama denganku. Kenapa dia bisa tahu aku ada di rumah Mbak Ifa?Apa mungkin dia sedang bersama kang Umam?

“Kang Ahmad? Idih, tumben dia mau ikut aku.Padahal sih, biasanya kita jarang sekali akur.Hemm, malesss.”

“Eh, eh. Sama tetangga sendiri mbok yang akur tho… kalau rukun dilihat kan nyenengin Dik” tersenyum menggoda padaku.

“Tau ah.Mau tidur dulu.”

“Yee.Malah ditinggal tidur”.

Meskipun mataku terpejam, namun hatiku tidak. Masih saja terbayang-bayang dengan surat yang baru tadi ku baca.

Siapa ya, yang sudah menulis surat itu untukku?. Kalau Kang Umam, nggak mungkin. Aku ataupun dia belum pernah bertemu sebelumnya.Tapi, mungkin saja dia tahu aku dari Mbak Ifa. Lebih nggak mungkin lagi kalau yang ngirim surat itu Kang Ahmad. Tulisannya aku hafal betul.Uuuh..dia kan musuh bebuyutanku. Kami memang tetangga satu desa.Rumahku dengannya juga hanya berjarak beberapa meter saja.Kami juga sudah sejak kecil sering bermain bersama.Akupun tak tahu sejak kapan mulai membencinya.

Sebagai seorang laki-laki yang berwajah orientalis, akupun tahu tak sedikit perempuan yang mengakui kalau dia itu tampan dan menawan. Dulu sewaktu kami masih satu sekolah banyak teman perempuan yang menitipan salam padanya melalui aku, banyak juga yang memberinya coklat, roti, atau makanan lainnya. Sudahlah, aku tak mau lagi memikirkannya.Semoga saja, besok tidak terjadi pertengkaran antara aku dengannya.

###

Waktu menunjukkan pukul 9 pagi.Sang mentari sedari tadi telah mengintip malu-malu dibalik sekawanan awan.Dan, aku sudah bersiap-siap untuk izin pulang dengan Mbak Ifa sekeluarga.

“Ibu, pamit riyinnjeh.Terima kasih atas semuannya dan maaf sudah merepotkan Ibu dan keluarga.”Pelan-pelan kuambil tangan Ibu Mbak Ifa, lalu kucium tangannya.

“Ya.Ndak apa-apa Nduk.Ibu malah seneng kamu main ke rumah.Mbak Ifa banyak cerita tentang kamu Da. Semangat ngajinya ya.Ingat Bapak-Ibumu di rumah, buatlah mereka bangga.”

“Iya, Bu. Terima kasih.”

Malu rasanya dengan Ibu Mbak Ifa.Mungkin Ibunya tahu kalau aku yang sering kalah cepat berangkat mengaji dengan Mbak Ifa.Meskipun keuarganya orang berada, namun sisi religiusnya cukup kental pada keluarga ini.

“Mbak.Makasih yo.Aku pak Bali sek maring Pekalongan.(Mbak.Terimakasih ya. Aku mau pulang dulu ke Pekalongan)”

“Iya.Hati-hati.Kapan-kapan main lagi ya.” Dan sekarang aku yang memeluknya, mengucapkan salam perpisahan.

“Pulang dulu, Bu, Mbak. Assalamu’alaikum…”

Ibu dan Mbak Ifa “Wa’alaikumussalaam”

Bismillahirrohmanirrohim.Semoga selamat sampai rumah Ya Allah.Amin.
Aku menaiki metro mini menuju halte pasar kota Kediri. Jarak yang harus ku tempuh kurang lebih memakan waktu 30 menit. Paling tidak aku sampai di halte pukul 09.30 WIB.Lumayanlah, ada waktu 30 menit sebelum nantinya aku bertemu dengan Kang Ahmad. Bukannya untuk berdandan atau apa, hanya saja harus ku siapkan mental supaya aku tidak mudah terpancing emosi oleh Kang ahmad.

Suasana di halte cukup ramai.Banyak orang berlalu-lalang melewati area halte.Ada yang sekedar lewat, ada pula yang memang mempunyai tujuan yang sama denganku yaitu menunggu bus datang. Bus jurusan Kediri-Pekalongan dijadwalkan akan datang pada pukul 10 nanti. Meski masih ada waktu 30 menit menuju pukul 10, namun sudah banyak para calon penumpang bus jurusan Kediri-Pekalongan yang datang memenuhi halte.

Samar-samar ku lihat sosok laki-laki yang sudah tak asing lagi bagiku.Iya, dialah Kang Ahmad.

“Hei, Rahma. Ternyata kau datang lebih awal dari yang ku kira” Menunjukkan senyum angkuhnya sembari duduk membuat jarak beberapa meter dariku.

“Sudahlah Kang, aku tidak mau terlalu banyak mendengar basa-basi darimu” pandanganku masih saja menatap lurus ke depan, tidak ingin menoleh ke kiri sekadar menangkap wajah kang Ahmad seperti apa pagi ini.

“Ternyata, kamu masih seperti yang dulu.Setelah kamu lulus SMP sikapmu begitu berbeda padaku.Padahal dulu kita sewaktu Sekolah Dasar selalu bermain bersama.Oh, iya. Aku ingin mengatakan suatu hal penting padamu Ma. Perhatikan baik-baik, jangan kau terus menatap arah jalanan.Bukankah orangtuamu juga mengajarkan, kalau sedang diajak berbicara seharusnya menatap mata lawan bicaranya.

Akupun langsung membelokkan badan ke arah kiri.

“Begini..sebenarnya, aku takut untuk mengatakannya padamu. Tapi, tak apalah.Dari pada nantinya kamu menyesal.

Hatiku dibuatnya dag-dig-dug.Rasa penasaranku makin bertambah.

“Itu, ada belek di ujung mata kamu” seketika ku ambil cermin dari resleting kecil bagian depan tas.

“Kang Ahmaaad!!!!!..”

“Huwahahaha… Kena deh. 1-0”

Uhh.Aku selalu saja terkena sikap usilnya.Berulang kali aku coba untuk berhati-hati pada sikapnya, namun tetap saja selalu terjebak.Ku kira benar-benar ada belekdi mata, dan ternyata hanya tipuan saja.

“Panjenengan, dari dulu masih saja usil ya, Kang.Kalau bukan karena Bapak-Ibu yang meminta untuk menghormatimu, aku nggak bakalan mau.”

“Eh.. eh.. eh.. bicara apakamu Ma. Jangan dibuat serius dong. Kita kansahabatplus tetangga dari kecil. Maaf deh, maaf..Beneran bercanda.Sekarang baru mau mengatakannya.”
Dia menghela nafas.

“Mungkin, selama ini. Sikapku sama kamu selalu membuat sebal. Dari dulu aku memang sangat suka kalau berbuat usil sama kamu.Perlu kamu tahu, Ma.Sikapku seperti ini karena semata-mata aku hamya ingin menyembunyikan rasa sayangku padamu.Aku takut, kalau kamu sampai tahu, nanti kamu nggakmau lagi berteman denganku,mungkin karena risih atau apapun.”

“Dan. Kamu tahu? Kemarin malam ada surat yang diberikan oleh Ifa padamu. Sebenarnya itu surat dariku. Aku sengaja meminta tolong Umam untuk menuliskannya untukku.Supaya kau tidak tahu. Salam yang juga dititipkan lewat Ifa, sebenarnya itupun dariku, bukan dari Umam.Dan sekarang, setelah beberapa tahun aku menata diri untuk bisa mengataknnya padamu, aku ingin mengatakan yang sejujurnya kalau… kalau aku mencintaimu.Iya.Aku mencintaimu Rahma. Setelah aku pikir-pikir, aku tidak mau dengan perasan yang tumbuh ini akan menghancurkan aku maupun kamu, aku putuskan, sesampainya nanti di Pekalongan, aku meminta izin akan mengkhitbahmu. Beritahulah Bapak-Ibumu, aku dan Bapak-Ibu akan mendatangi rumahmu”

Duarrrr.Serasa disambar petir di siang bolong.

Aku hanya diam menundukkan kepala.Mulutpun terkunci rapat. Sulit rasanya mengucapkan beberapa kalimat yang akan ku jawab atas pernyataan Kang Ahmad tadi. Aku harus waspada, mungkin saja ini hanya rekayasa.

Bersambung… 

Kelas Tsanawi Pondok Al-Hadi Min Aswaja Gelar Syukuran

Pekalongan, 05/11 Kelas Tsanawi madin pondok pesantren al-hadi min ahlissunah waljama’ah menggelar syukuran atas dikhatamkanya kitab Kifayatul Al-awam, syukuran yang semula akan digelar di depan Daarulkhamaam (kamar dekat dapur pondok) pindah ke ndalem (rumah pengasuh) dikarenakan hujan turun, syukuran tersebut diadakan makan bersama dengan lauk Ayam bakar, sambal ala santriah al-hadi, lalapan, juga ada jus nangka dan buah.

Kalau saya sih.. ngalap barokah saja,, kata Gus Kamal(23) sambil tersenyum imut. Ustadz yatin yang juga salahsatu peserta pengajian di kelas tersebut memaparkan kenapa syukuranya pake ayam bakar, ya mungkin karena sudah tradisi saja, dari dulu-dulnya mungkin poro kiai mbien begitu, tuturnya dengan menggunakan bahasa jawa,,terus selain itu ya ngalap barokah.

Ya selain ngalap barokah harapan saya hal ini juga akan menjadi pemecah kejenuhan, tatkala ngaji mungkin ada kejenuhan, mudah-mudahan dengan mengadakan syukuran seperti ini akan menjadi salahsatu hiburan dan kedepanya lebih semangat lagi untuk memperdalam kajian kami, soalnya ngaji itu kan tidak cukup sekali saja, perlu disusul muthola’ah juga dicermati lagi,, biar benar-benar faham, tidak ngambang.

Kalo masalah ko pake ayam bakar ya,, kita kan melibatkan pengasuh yang memang beliau mengajar kitab tersebut juga nanti yang mendoa,i.. mendoa’akan sama kita-kita “biar manfaat, biar barokah,,” masa iya kita mau masak sayur terong atau hanya sekedar megono saja, kan gak lucu,,, ya mungkin inipun masih jauh dari kata mengaggungkan yang sesungguhnya,,yang lebih belum bisa, sementara kami baru bisa melakukan ini, mudah-mudahan tercatat amal baik kami, dan juga perwujudan dari rasa hormat kami terhadap ilmu dan ahlinya/ahli Ilmu, kata slahsatu santri yang tidak mau disebutkan namanya.

Ya kami juga mengundang pak ustadz Abidin, tapi beliau tidak datang alasnya karena sudah kenyang, ya tetap saya,, kami, merasakan ada yang kurang walau bisa dikatakan tidak kecewa karena beliau sudah dipanggil sama mas Yatin, tapi katanya sudah keleyep-keleyep masa harus dipaksa. Kata ustadz Akmal

Pak Kiai Memberi Nasehat

Setelah selesai membacakan kalimah terakhir dari kitab Kifayatul al-Awam Kiai Abdul Hadi selaku pengsuh, sekaligus pengampu kitab tersebut memberikat petuah-petuah penting terhadap murid-muridnya
“ iki sampean kabeh wes khatam,, syukuran, tapi jangan merasa puas, diteruskan lagi, dideres soalnya tatkala sesuatu sudah selesai, sudah sempurna, maka akan terlihat kekuranganya, dimusyawarohke, kebukae ilmu kelawan musyawaroh, kalau mentok, tangledke malih teng kulo”
Begitu nasehatnya menggunakan bahasa campur dengan bahasa daerahnya.
tumpeng khatama kifayatul awam-alhadi aswaja